Translate

Kamis, 22 Mei 2014


Penyebab Kerusakan Ekosistem Perairan Indonesia



 Pulau Tikus Tual

Citra Indonesia sebagai negara bahari adalah suatu kesatuan dari ragam fakta geografis, sumber daya, kultur serta sejarah yang melekat pada negeri ini. Indonesiasebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki luas wilayah + 7,7 juta km2,dengan wilayah lautan + 5,8 juta km2, terdiri dari perairan kepulauan dan teritorialseluas 3,1 juta Km2  serta perairan Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI)  seluas 2,7 juta Km2 memiliki  +17.504  pulau  (data  Departemen  Dalam Negeri  tahun 2004)  serta  memiliki  garis  pantai  sepanjang  81.000  km  yang merupakangaris pantai terpanjang keempat di dunia.
 Pantai Nestapa Ambon

Pesisir dan pulau-pulau kecil menyimpan  sumber daya kelautan yang merupakanpotensi penting dalam pembangunan masa depan, mengingat luas wilayah lautIndonesia adalah + 62% dari luas wilayah nasional, belum termasuk Zona EkonomiEksklusif seluas + 2,7 juta km persegi. Dengan berbagai kekayaan keanekaragamanhayati  dan jasa-jasa  lingkungan  yang diberikan,  wilayah  pesisir  merupakan wilayah yang  penting  ditinjau  dari  berbagai  sudut  pandang  perencanaan  dan pengelolaan karena mempunyai nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi.
 Di sepanjang garis pantai tersebut terdapat wilayah pesisir yang memiliki potensi sumber  daya  kelautan  meliputi  hayati  dan  non  hayati sumber  daya buatan,serta jasa lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia.Sumber daya hayati seperti ; rumput laut (sea-weeds), padang lamun (sea-grass beds),  terumbu  karang  (coral  reefs),  hutan  bakau  (mangrove dan sumberdaya non hayati seperti : estuaria, pantai pasir, pantai berbatu, pulau- pulau kecil,laut terbuka, energi laut dan harta karun yang berupa muatan kapal tenggelam(BMKT).        
 
 Dengan sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat menguntungkantersebut ditambah dengan letak Indonesia yang sangat strategis, mengundang    banyak pihak             untuk    mengeksplorasi secara             illegal    danmemanfaatkan sumber daya tersebut secara tidak bertanggung jawab yang dapatmerugikan negara dan merusak ekosistem perairan laut yang ada.
Kerusakan ekosistem perairan laut Indonesia pada umumnya diakibatkan karenapemanfaatan sumber daya yang tidak terkendali dengan cara illegal sepertipenangkapan  ikan  di  daerah  terumbu  karang  dengan  menggunakan bahan beracun dan bahan peledak;  penebangan bakau untuk bahan bakukertas, arang dan bangunan serta konversi lahan pesisir yang dibuka untukpertambakan, pertanian/perkebunan, industri dan pemukiman; pencemaranlaut akibat tumpahan minyak dan pembuangan zat-zat yang berbahaya dari kapal-kapal; 
  

aktifitas wisata; reklamasi pantai dan penambangan pasir laut;  penambangankarang untuk bahan bangunan atau kapur dan pengambilan karang hidupuntuk tujuan komersial (perdagangan), pencurian benda berharga muatankapal tenggelam (BMKT) dan kekayaan laut lainnya mengakibatkan  terjadinyakebocoran pendapatan  negara dan penurunan tingkat kesejahteraan nelayansehingga kekayaan sumber daya alam tersebut harus selalu dijaga dan dilestarikanagar dapat bermanfaat secara berkelanjutan bagi bangsa Indonesia.
Langkah-langkah strategis yang dilakukan untuk menjaga dan melindungi kelestariansumber  daya         kelautan  secara   bertanggung jawab     dan berkesinambungan adalah dengan melakukan pemantauan, pengawasan dan pengendalian sumber dayakelautan dan perikanan. Untuk mendukung langkah tersebut, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan melakukan  Pemantauan Pemanfaatan  Sumber  Daya  Kelautan  sebagai  panduan tentang pemantauansumber daya kelautan dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan laut diIndonesia. Pelaksanaan dilapangan dilakukan oleh Pengawas Perikanan, Polisi Khusus Kelautan yang berada di UPT Pangkalan, Stasiun, Satker dan Pos Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan.
Sumber : Buku POS Operasinal Pemantauan Pemanfaatan SDK

1 komentar: