Translate

Selasa, 23 Februari 2016

FILUM Sarcomastigophora

DASAR – DASAR MIKROBIOLOGI

FILUM Sarcomastigophora



OKY FERNANDO PUTRA
130254241017


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStu1c0QKDSnDTHOdXmciLfF4eSFZKnznxt9deKWmj1QYyQ5ynCE7B3oUQ-gm-C1fpFhILB-aBlPu0mMEX5DFhZ5UMuNqI51MQvqr1VGPkOuk_ZUom64aMwPPQc4i2M7fNDArI7S1skJ4/s1600/un.jpg




FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG – 2015


Sarcomastigophora merupakan sub filum dari protozoa yang diklasifikasikan berbeda dari yang lain dikarenakan alat geraknya yaitu pseudopodia dan atau flagella. Alat gerak organel berupa pseudopodia atau flagella dan dapat keduanya. Nukleusnya memiliki 1 inti atau lebih akan tetapi monomorfik (sama ukurannya).
Kemudian, Subfilum mastigophora diklasifikasikan dalam 3 kelas yaitu :
1.          Kelas Mastigophora atau Flagellata
cirri – cirri umum
Memiliki pelikel, alat gerak protozoa ini berupa satu flagella atau lebih. Contoh hewan protozoa dari kelas ini adalah Euglena, Noctiluca, Trypanosoma (hewan protozoa darah).
Habitat
Air merupakan faktor penting keberaan Flagellata selain ketersediaan makanan, pH dan suhu. Flagellata dapat ditemukan di lingkungan air tawar, di danau, sungai, kolam, atau genangan air, misalnya Euglenoida dan Volvocida,maupun air laut, misalnya Dinoflagellata. Spesies zooflagellata sebagian besar bersifat parasit, namun adapula yang bersimbiosis dengan organisme lain, misalnya Myxotrica didalam usus rayap.
Makanan
Untuk yang jenis tumbuhan Bersifat holofitrik karena memiliki kloroplas yang mengandung klorofil, sehingga dapat membuat makanannya sendiri dengan cara melakukan fotosintesis. Bersifat holozoik yaitu dengan cara memasukkan makanannnya yang berupa organisme berukuran lebih kecil melalui sitofaring menuju vakuola dan ditempat inilah makanan dicerna. Sedangkan untuk yang hewan  Makannya berupa zat organik yang diperoleh dari lingkungannya.
Morfologi
Bentuk tubuh Flagellata sangat beragam, ada yang berbentuk lonjong, menyerupai bola, memanjang, dan polimorfik (memiliki berbagai bentuk morfologi). Hidup secara soliter dan ada yang berkoloni. Fitoflagellata mempunyai tubuh yang diselubungi oleh membrane selulosa, misalnya volvox. ada pula yang memiliki lapisan pelikel, misalnya euglena. pelikel adalah lapisan luar yang terbentuk dari selaput plasma yang mengandung protein. Bentuk tubuh zooflagelata mirip dengan sel leher porifera. Zooflagelata mempunyai flagel yang berfungsi untuk menghasilkan aliran air dengan menggoyangkan flagel. Selain itu, flagella juga berfungsi sebagai alat gerak.
Koloni Volvox dapat terdiri dari ribuan sel dan diselubungi oleh membrane selulosa. Salah satu spesies Fitoflagellata yang mudah ditemukan dan diamati morfologinya yaitu Euglena viridisEuglena viridis berbentuk seperti gelendong dengan bagian anterior tubuh tumpul dan bagian posterior meruncing. Struktur tubuh Euglenaviridis terlindungi oleh pelikel dan dilengkapi dengan satu flagel yang terletak dibagian anterior. Flagel berfungsi sebagai alat gerak untuk berpindah tempat dan berfungsi untuk mengumpulkan makanan. Pada ujung anterior tubuh juga terdapat celah sempit yang memanjang ke arah posterior dan melebar membentuk kantong cadangan atau reservoir.
Reproduksi
Pada Flagellata ada 2 macam, yaitu vegetatif dan generatif. Reproduksi vegetatif dengan cara pembelahan biner secara longitudinal, misalnya pada Euglena. Reproduksi generatif terjadi karena persatuan antara ovum dan spermatozoid, misalnya pada Volvox. Reproduksi secara generatif berfungsi untuk memperkaya variasi genetik, sehingga menghasilkan individu mutan yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan. Pada Volvox terdapat koloni jantan yang menghasilkan sperma dan koloni betina yang menghasilkan ovum, namun ada juga koloni yang bersifat hermafrodit yang dapat menghasilkan sperma serta ovum. Meskipun koloni yang bersifat hermafrodit dapat menghasilkan sperma dan ovum dalam satu koloni, kematangan sperma dan ovum tidak pada saat yang bersamaan, sehingga tidak dapat terjadi pembuahan diri. Ovum dihasilkan oleh oogonium, sedangkan Volvoxjantan menghasilkan spermatozoid oleh spermatogonium. Setelah terjadi fertilisasi akan menghasilkan zigot, zigot akan menghasilkan empat spora, yang kemudian akan menjadi individu baru.
2.          Kelas Sarcodina atau Rhizopod
Cirri – cirri umum
memiliki tubuh yang amoeboid dengan pelikel berlapis. Alat gerak protozoa ini berupa pseudopodia. Alat gerak pseudopodia terbagi tiga yaitu lobopodia, filopodia, atau retuculopodia.
Habitat
Rhizopoda pada umumnya hidup bebas di alam, namun ada pula yang hidup sebagai parasit di tubuh hewan dan manusia. Rhizopoda yang hidup parasit dapat menyebabkan penyakit. Rhizopoda yang hidup bebas di alam dapat ditemukan di air laut, air tawar, tanah yang basah, atau tempat yang berair dan lembap. Beberapa Rhizopoda dapat membentuk kista bila kondisi lingkungan memburuk, misalnya Amoeba sp.
Berdasarkan tempat hidupnya Amoeba dibedakan menjadi :
a. Ektamoeba
hidup di luar tubuh organisme (hidup bebas). Misalnya Amoeba proteus
b. Entamoeba
hidup di dalam organisme , misalnya manusia: contohnya Entamoeba histolityca, yang hidup di dalam usus halus manusia, bersifat parasit dan menyebabkan penyakit perut (Disentri). Entamoeba coli, hidup dalam colon (usus besar manusia). Amoeba ini tidak bersifat parasit , tetapi kadang-kadang dapat menyebabkan buang air besar terus-menerus. Entamoeba ginggivalis, hidup dalam rongga mulut dan menguraikan sisa-sisa makanan, sehingga merusak gigi dan gusi.
Makanan
Hewan protozoa ini makan secara holozoik (memakan mikroorganisme ) atau saprozoik (mengambil makanan dari zat-zat makhluk hidup yang mati dan membusuk). Contoh hewan ini adalah Amoeba, Entamoeba dan Actinohrys. Entamoeba merupakan protozoa usus yang menyebabkan banyak penyakit usus pada manusia tergantung spesiesnya.
Morfologi
Bentuk sel Rhizopoda terutama yang telanjang (tidak bercangkang) tampak selalu berubah-ubah, misalnya padaAmoeba. Sitoplasma di dalam sel Amoeba dapat dibedakan menjadi ektoplasma (plasma bagian luar) dan endoplasma(plasma bagian dalam). Ektoplasma bersifat lebih kental daripada endoplasma. Di dalam sitoplasma terdapat inti sel, vakuola makanan, vakuola kontraktil, dan organel sel eukariotik lainnya. Sitoplasma dikelilingi oleh membran plasma yang berfungsi sebagai pelindung isi sel, mengatur keluar masuknya suatu zat, sebagai tempat pertukaran udara, dan reseptor rangsangan.
a)      Membrane sel atau membrane plasma
Membrane sel disebut juga plasmalema dan berfungsi melindungi protoplasma.Sitoplasma dibedakan atas ekstoplasma dan endoplasma. Ektoplasma merupakan lapisan luar sitoplasma yang letaknya berdekatan dengan membrane plasma dan umumnya ektoplasma merupakan bagian dalam plasma, umumnya bergranula. Didalam endoplasma terdapat 1 inti, 1 vakuola kontraktil, dan beberapa vakuola makanan.
b)     Inti sel (nucleus) 
Berfungsi mengatur seluruh kegiatan yang berlangsung didalam sel.
c)      Rongga berdenyut (Vakuola Kontraktil) 
Berfungsi sebagai organ ekskresi sisa makanan. Vakuola kntraktil juga menjaga agar tekanan osmosis sel selalu lebih tinggi dari tekanan osmosis disekitarnya.
d)     Rongga makanan (vakuola makanan )
Berfungsi sebagai alat pencernaan. Makanan yang tidak dicernakan akan dikleuarkan melalui rongga berdenyut.
Reproduksi
Rhizopoda hanya bereproduksi secara aseksual, sedangkan reproduksi secara seksual tidak diketahui. Rhizopoda bereproduksi secara aseksual melalui berbagai mekanisme pembelahan sel yang mengarah ke pembelahan mitosis. Namun, tahap-tahap mitosis tidak tampak dengan jelas. Contohnya, pada proses pembelahan sel terbentuk benang-benang spindel, tetapi membran inti tidak pernah menghilang selama proses pembelahan. Pembelahan sel diawali dengan pembelahan inti, selanjutnya membran plasma semakin melekuk ke arah dalam hingga terbentuk dua sel anakan.
3.       Kelas Opalinata.
Cirri – cirri umum
Klasifikasi kelas ini berdasarkan adanya silia seperti flagella pada seluruh tubuhnya, berinti 2 atau lebih tetapi tetap berukuran sama dan merupakan protozoa parasit pada usus katak dan kodok. Contoh hewan protozoa ini adalah Opalina, Zelleriella.

Habitat
Habitat menghuni usus amfibi (misalnya, salamander, kadal air) dan beberapa reptil dan ikan.
Makanan
Umumnya Opalinida hidup berkomensalisme didalam sistem pencernaan amfibi atau ikan.
Morfologi
Spesies ini berbentuk pelikel, lonjong, pipih, dengan silia, dan tidak mempunyai sitostom, dan vakuola kontraktil. . Di dalam sitoplasma ditemukan banyak nuklei yang berukuran sama. Spesies ini menyerap makanan dari tubuh inangnya.
Reproduksi
Reproduksi seksual dengan konjugasi sebagai ajang pertukaran material genetik dari dua individu. Sedangkan reproduksi aseksualnya dengan pembelahan biner, yakni mitosis makronukleus dan diikuti dengan pembelahan sel.




LAPORAN PRATIKUM Identifiksi Vegetasi Manggrove dan Biota Asosiasi

Biologi Laut                                       Dosen Pengampuh : Ita Karlina, S.Pi, M.Si

LAPORAN PRATIKUM
Identifiksi Vegetasi Manggrove dan Biota Asosiasi



Oleh :
Oky Fernando Putra
130254241017



FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tumbuhan manggrove adalah tumbuhan yang dapat beradaptasi dengan tingkat salinitas perairan yang tinggi. Tumbuhan ini banyak di jumpai pada daerah pesisir pantai yang masih di pengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Tumbuhan manggrove yang biasanya hidup di substrat berlumpur dapat semagai penghalang gelombang dan pencegah terjadinya abrasi pantai oleh ombak. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger, dkk, 1983). Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa.
Beberapa peneliti seperti Lanly (dalam Ogino & Chihara, 1988) menyebutkan bahwa luas mangrove di seluruh dunia adalah sekitar 15 juta hektar, sedangkan Spalding, dkk (1997) menyebutkan 18,1 juta hektar, bahkan Groombridge (1992) menyebutkan 19,9 juta hektar. Untuk kawasan Asia, luas mangrove diperkirakan antara 32 % (Thurairaja, 1994) sampai 41.5% (Spalding, dkk, 1997) mangrove dunia. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove, meliputi 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis pemanjat, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis tersebut, 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove), sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociateasociate).
Sungai Ladi merupakan salah satu wilayah yang ada di Kelurahan Kampung Bugis yang terletak di Kecamatan Tanjungpinang Kota memiliki luas ekosistem mangrove seluas1,599,9 Ha pada tahun 1989 dan mengalami penurunan sekitar 83,5% yaitu sebesar 1337,4 Ha pada tahun 2009 (Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian, Kehutanan dan Energi 2010). Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah vegetasi mangrove di Kelurahan Kampung Bugis mengalami penurunan sebanyak16,5% atau 262,5 Hadari total hutan mangrove sebelumnya.
Penurunan jumlah hutan mangrove di Sungai Ladi tersebut di duga adanya berbagai aktifitas, diantaranya : penambahan pemukiman penduduk, pelabuhan transportasi masyarakat setempat ( Susana1, Tengku Said Raza’i2, Winny Retna Melani2, 2013)
Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata, reptilia dan burung. Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makan, mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air. Bagi berbagai jenis ikan dan udang, perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan, tempat mencari makan dan
tempat pembesaran anak.
Budiman (1985) mencatat sebanyak 91 jenis moluska hanya dari satu tempat saja di Seram, Maluku. Jumlah tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya terdapat pada karang, akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove. Beberapa dari 91 jenis kelompok moluska tersebut diketahui hidup di dalam tanah, sementara yang lainnya ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup menempel pada tumbuh-tumbuhan. Sedangkan di lokasi pratikum ini kami mencatat biota moluska yang hidup di daerah manggrove tidak sebanyak yang terdapat di maluku tersebut.

1.2 Tujuan
Untuk melengkapi tugas pratikum mata kuliah biologi laut dan  karena telah berkurangnya jenis manggrove yang terdapat di kelurahan kampung bugis maka dirasa perlu di lakukan peelitian vegetasi manggrove di kelurahan kampung bugis untuk mengetahui kondisi terkini.
1.3 Manfaat Penelitian
Dalam pratikum ini kita dapat mengidentifikasi jenis manggrove mulai dari akar, daun, dan bunga, serta substrat pada kawasan ekosistem manggrove. Kita juga dapat mengidentifikasi biota ekosistem manggrove di lokasi pratikum mengenai makrozoobentos yang termasuk ke dalam kelompok moluska, echinodermata, antropoda, krustasea, dan ikan laut.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Metodelogi Penelitian
2.1.1                 waktu dan tempat
pratikum identifikasi vegetasi manggrove dan biota asosiasi ini di laksanakan pada 16 may 2015 bertempat di kelurahan Kampung Bugis kecamatan Tanjungpinang Kota Kepulauan Riau

2.1.2                 alat dan bahan
adapun alat dan bahan dalam pratikum ini adalah :
·         kantong plastik ukuran 2 Kg
·         camera digital
·         buku catatan
·         alat tulis
·         sepatu but
·         parang

2.1.3                 prosedur pratikum
untuk pratikum ini digunakan metode pengumpulan sampel dan pengidentifikasian langsung dan secara visual terhadap sampel yang di temukan.
Langkah pengambilan sampel :
ü  sampel di ambil pada daerah masing – masing kelopok pratikum
ü  untuk setiap biota dan jenis manggrove yang di temukan di lakukan dokumentasi secara visual menggunakan kamera digital
ü  pengambilan foto dengan memfoto bagian batang, akar, daun, buah, dan bunga manggrove
ü  selanjutnya dilakukan pengambilan foto biota asosiasi yang hidup di sekitar vegetasi manggrove
ü  selanjutnya sampel yang di dapat di lakukan pengklasifikasian, morfologi, habitat, analisis penyebaran, dan bagaimana kondisi sampel sampai saat ini di daerah penyebaran.
2.2 hasil dan pembahasan pratikum
2.2.1            jenis – jenis vegetasi manggrove
jenis – jenis vegetasi manggrove yang di temukan pada lokasi pratikum adalah :
1. Rhizophora apiculata

BUAH

DAUN

AKAR
    


Kingdom
Plantae
Divisi
Magnoliophyta
Kelas
Magnoliopsida
Sub Kelas
Rosidae
Ordo
Myrtales
Famili
Genus
Rhizophora
Spesies
Rhizophora apiculata

Substrat : Tanah Berlumpur

2. Xylocarpus granatum

BUAH
    

DAUN & BUNGA

AKAR
 



Kingdom
Plantae
Divisi
Magnoliophyta
Kelas
Magnoliopsida
Sub Kelas
Rosidae
Ordo
Sapindales
Famili
Genus
Spesies
Xylocarpus granatum

Substrat : Tanah Berlumpur
3. Lumnitzera littorea






    

DAUN

BUAH

BUNGA
 



Kingdom
Plantae
Divisi
-
Kelas
-
Sub Kelas
-
Ordo
Myrtales
Famili
combretaceae
Genus
Lumnitzera
Spesies
Lumnitzera littorea

Substrat : Tanah Berlumpur

2.2.2            jenis – jenis fauna asosiasi manggrove
1.
Jenis biota
Ciri - ciri
substrat
Ikan
ü  kebanyakan ikan – ikan kecil
ü  warna tubuh agak gelap
Air berlumpur







2.

Jenis biota
Ciri - ciri
substrat
Mollusca
ü  tubuh bercangkang
ü  warna abu – abu gelap
Lumpur

3.
Jenis biota
Ciri - ciri
substrat
Mollusca (siput)
ü  tubuh bulat panjang
ü  warna tubuh agak gelap
Lumpur berair





4.
Jenis biota
Ciri - ciri
substrat
Bivalvia
ü  memiliki cangkang keras
ü  menempel pada akar manggrove
Lumpur

5.
Jenis biota
Ciri – ciri
substrat
Kepiting
ü  hidup di daerah manggrove berlumpur
ü  memiliki warna cangkang beragam mulai dari hitam, hijau kecoklatan, dan coklat hitam
Air berLumpur


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Dari pratikum yang di lakukan maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa jenis vegetasi yang mendominasi wilayah kelurahan kampung bugis kota tanjungpinang kepulauan riau adalah :
1.      Rhizophora apiculata
2.      Xylocarpus granatum
3.      Lumnitzera littorea
sedangkan untuk jenis biota asosiasinya adalah :
1.      Ikan – ikan kecil
2.      Mollusca
3.      Bivalvia

3.2 Saran
Didalam hasil yang di dapat pada pratikum ini pratikan menyarankan agar masyarakat yang tinggal di daerah sekitar ekosistem manggrove agar dapat lebih menjaga lagi pohon – pohon manggrove yang hidup di sana dengan tidak menebangi pohon – pohon tersebut untuk kepentingan individual, serta agar lebih dapat lagi menjaga kebersihan daerah di sekitar manggrove dengan tidak membuang sampah rumah tangga ke daerah manggrove yang dapat mengakibatkan buruknya kualitas perairan di sana.





DAFTAR PUSTAKA

Bibliography

Susana, Tengku Said Raza’i, Winny Retna Melani. (2013). strukter vegetasi manggrove di sungai ladi kelurahan kampung bugis kecamatan tanjungpinang kota provinsi kepulauan riau. jurnal umrah, 2.
Yus Rusila Noor, M. K. (2012). panduan pengenalan manggrove di indonesia. bogor: Wetlands International – Indonesia Programme.